I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kabupaten Asmat mempunyai potensi sumberdaya perikanan dan kelautan baik pada perairan laut, perairan payau, dan perairan tawar. Luas laut Kabupaten Asmat ± 2009,32 km² serta panjang garis pantai ± 258,43 km dengan memiliki potensi lestari sebesar 128.000 ton/tahun, baik perairan laut maupun perairan umum.
1.2 Kondisi Geografis Kabupaten Asmat
Kabupaten Asmat berada pada bagian selatan Provinsi Papua, terketak pada 137°-141°BT dan 05°-07° LS. Secara administratif Kabupaten Asmat terdiri atas 8 Distrik dan 139 kampung dengan batas-batas sebagai berikut :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Yahokimo dan Kab. Nduga
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Arafura
- Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Mimika
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Mappi
Letak geografis wilayah mempunyai prospek pengembangan ekonomi melalui sektor kelautan dan perikanan.
Luas Wilayah Kabupaten Asmat 23.746 km², sebagian besar wilayah Kabupaten Asmat terdiri atas dataran rendah dan berawa, dataran tinggi terdapat pada Distrik yang berbatasan dengan Kabupaten Yahokimo.
1.3 Karakteristik Fisik Wilayah Kabupaten Asmat
Umumnya berdataran rendah, kemiringan 0° - 3°, pesisir pantai terendam air laut pada saat pasang, range pasang surut 4-5 m, air pasang masuk sampai sejauh 50 km dan sebagian besar wilayah pesisir terintrusi air laut. Dengan curah hujan antara 2500-4000 mm/tahun dan suhu udara antara 25°-31°, hujan berlangsung merata sepanjang tahun.
Sungai besar yakni Bets, Unir, Asuwetsy, Sirets, Pomats, Fay, Mamats, Jets, Oap, Binam, Fayit, Dere, merupakan potensi untuk perikanan dan digunakan sebagai prasarana angkutan antara Distrik dan Kampung-kampung. Sumber air tawar berasal dari air hujan, rawa-rawa dan air tanah. Pantai Kabupaten Asmat dibentuk oleh adanya transport sedimen dari hulu sungai ke hilir yang kemudian diikat oleh akar-akar mangrove sehingga membentuk daratan, jenis tanah di Kabupaten Asmat adalah Aluvial.
1.4 Karakteristik Sosial Budaya dan Ekonomi Masyarakat Asmat
Masyarakat Adat Asmat terdiri atas 11 (sebelas) Rumpun yaitu Rumpun Joerat, Sirau/Kenok, Simai, Bismam, Becmub, Safan, Brasa, Jopmak Ow, Jopmak Jain, Kaimo Jiwin, Emariw Ducur. Masing-masing Rumpun memiliki Forum Adat Rumpun (FAR). Masyarakat Adat Asmat senantiasa menjaga dan menjalankan adat dalam kehidupan sehari-hari. Seni Ukiran dan Tarian yang khas dan eksotis merupakan kekayaan khasanah budaya Asmat yang sudah dikenal dan menjadi warisan budaya dunia.
Seperti halnya masyarakat tradisional lainnya, masyarakat adat Asmat umumnya bermata pencaharian sebagai Peramu, Perambah Hutan, Petani dan Nelayan. Kegiatan ekonomi yang dilakukan adalah mengambil bahan dari alam kemudian dijjual di pasar atau dikonsumsi sendiri. Kegiatan bercocok tanam pada umumnya terbatas pada menanam ubi dan palawija, sedangkan beternak adalah Babi, Ayam dan Bebek.
1.5 Aksesibilitas Wilayah
Hubungan antara Ibukota Kabupaten dengan Kota-kota lain dapat dicapai dengan melalui transportasi Udara dan Laut. Kabupaten Asmat memiliki Lapangan Terbang Ewer dan Kamur (Ibukota Distrik Pantai Kasuari) yang didarati oleh Pesawat jenis Twin Otter milik PT. Merpati Nusantara Air Lines dan Pemerintah Kabupaten Meruke dengan frekuensi penerbangan Ewer – Timika 3 kali seminggu (Senin,Rabu dan Sabtu), Ewer –Merauke 4 kali seminggu (Senin, Rabu, Jumat dan Sabtu) sedangkan Kamur – Merauke 1 kali seminggu.
II. POTENSI SUMBERDAYA IKAN ARWANA IRIAN DAN KURA-KURA
2.1. Potensi dan Penyebaran
Kabupaten Asmat memiliki potensi sumberdaya ikan hias dan kura-kura di perairan umum berupa ikan hias Arwana Irian (Schleropages Jardinii), Ikan Pelangi (Melanotaenidae), Ikan Gabus Merah yang hidupnya di perairan hulu sungai, rawa-rawa serta berbagai jenis kura-kura yang ditemukan yaitu kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta), kura-kura lorentz (Elseya), kura-kura leher ular papua (Chelodina novaeguineae), labi-labi irian (Pelochelys Bibroni) yang penyebarannya dari wilayah pantai sampai ke wilayah pedalaman dengan didominasi oleh kura-kura moncong babi.
Ikan Arwana Irian dan Ikan Pelangi ditemukan pada 5 Distrik yaitu Distrik Sawaerma, Suathor, Akat, Suru-suru serta Distrik Atsy. Kelima Distrik tersebut terdapat banyak rawa-rawa serta merupakan daerah aliran sungai dengan kadar garam 0 ppt sehingga menjadi habitat yang baik bagi ikan arwana irian. Rawa yang sudah diidentifikasi sebagai tempat berkembangbiak ikan arwana irian dan ikan pelangi adalah rawa baki, rawa beo, rawa samato, rawa jimo, rawa aijo, rawa bor, rawa jaoh, rawa bantoan, rawa bian, rawa om, rawa vin dan rawa ucujo.
2.2. Deskripsi ikan Arwana Irian dan kura-kura yang ditemukan di Kabupaten Asmat
a. Ikan Arwana Irian (Scleropages jardinii)
Famili : Osteoglossidae
Nama local : Kaloso
Nama Inggris : Saratoga; Bony Tongue
Ciri-ciri : Tubuh pipih memamnjang, 20-24 jari-jari lemah sirip dorsal, 28-32 pada sirip dubur; tinggi tubuh 25-28% terhadap panjang baku; panjang kepala 28-31% terhadap panjang baku; sepasang sungut yang panjang;warna tubuh hijau keperakan; pinggiran sisik berwarna merah jambu atau merah. Panjang kaku tubuhnya maksimum bias mencapai 90 cm, tapi yang umum 30-50 cm
Habitat : sungai dan rawa
Status : Dilindungi (PP No. 7/1999)
b. Kura-kura Perut Merah (Emydura subglobosa)
Nama local : Kura-kura dada merah
Nama Inggris : Red Bellied Short Necked Terrapin
Ciri-ciri : Warna perisai berwarna merah oranye atau kuning coklat, demikian juga dengan keeping-keping marginalnya. Perisai punggungnya lebih lonjong dengan bagian belakang lebih lebar. Lehernya relative pendek dan dipenuhi dengan duri-duri lunak berukuran kecil
Habitat : Sungai dan rawa-rawa
Makanan : Ikan, siput air tawar, udang dan kangkung
c. Kura-kura leher ular papua (Chelodina novaeguineae)
Nama local : Kura-kura leher ular
Nama inggris : Papuan snake necked terrapin
Ciri-ciri : dapat dibedakan dari lehernya yang panjang dan mencapai kira-kira 50-60% dari panjang perisainya. Kepalanya mempunyai alur ditengahnya, lehernya dipenuhi bintil-bintil yang tersusun rapat, demikian pula dengan paha dan ekornya. Iris matanya berwarna hitam, warna perisai punggung coklat sampai kehitaman dengan bercak-bercak lebih gelap
Habitat : rawa-rawa, sungai yang berarus pelan dan berlumpur
Makanan : siput, udang, katak dan ikan kecil
d. Labi-labi irian (Pelochelys bibroni)
Nama local : Labi-labi
Nama Inggris : New guinean soft shell turtle
Ciri-ciri : kepalanya besar dan lebar; lubangnya terletak pada ujung belalai yang kecil dan pendek, panjang belalainya lebih panjang dari diameter matanya. Ekornya relative pendek, kakinya berwarna hitam dan jari-jarinya berselaput penuh. Kukunya kokoh berwarna kuning dengan ujung lancip. Lehernya berdiameter besar dan panjangnya mencapai 25% dari panjang perisai punggung, dipenuhi dengan kutil-kutil yang pipih dan kadang-kadang berlipat. Perisai punggungnya berwarna krem dengan garis-garis hitam yang lebar menyebar dari garis tengah, perisai perutnya putih atau krem.
Habitat : terdapat dimuara sungai terutama areal taman nasional Lorentz
Makanan : daun-daunan seperti kangkung, menyukai ikan terutama ikan gabus
e. Labi-labi moncong babi (Carettochelys insculpta)
Nama local : Kura-kura moncong babi
Nama inggris : pig nosed turtle
Ciri-ciri : berbentuk seperti labi-labi, hanya perisainya tidak terdiri atas tulang rawan; pada bagian tulang neural (keeping vertebral) terdapat lipatan kulit yang agak tinggi, memanjang dari depan ke belakang. Anakannya mempunyai tepi perisai punggung yang bergerigi. Kaki depannya berbentuk dayung dengan dua buah buku disebelah depan, sedangkan kaki belakangnya dengan empat jari yang jelas dan berselaput penuh dan dilengkapi dengan dua buah buku bagian depan. Warna perisainya merah muda hingga abu-abu tua, akannya berwarna hitam, kepalanya berwarna hitam, bagian belakang matanya terdapat bercak putih.
Habitat : hidup di sungai-sungai besar
Makanan : makanan utamanya buah bakau dan pandan, kangkung dan menyukai ikan kecil
III. RENCANA PENGELOLAAN
Pada tahun 2008 Pemerintah Kabupaten Asmat telah menetapkan Peraturan Derah Kabupaten Asmat Nomor 13 Tahun 2008 tentang retribusi perijinan usaha perikanan guna mengendalikan pemanfaatan potensi ikan arwana irian, ikan hias lainnya serta kura-kura di Kabupaten Asmat, namun sampai saat ini pemanfaatannnya baru sebatas konsumsi lokal karena belum ada survey pendugaan stok serta penetapan kuota untuk penangkapan dan pengiriman ikan arwana bagi Kabupaten Asmat dari LIPPI sebagai Scientyfic Authority sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2007 tentang konservasi sumberdaya ikan.
Upaya yang telah dilaksanakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Asmat untuk mengawasi penangkapan dan pengiriman ikan arwana irian dan kura-kura terutama jenis kura-kura moncong babi adalah dengan melakukan patrol di perairan Asmat sebanyak 10 kali dalam setahun dan pemeriksaan kapal-kapal penumpang yang singgah di pelabuhan-pelabuhan di Kabupaten Asmat terutama pelabuhan Agats dan Atsy. Kendala yang dihadapi adalah masih adanya tumpang tindih kewenangan pengelolaan ikan arwana irian dan kura-kura antara Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Kementerian Kehutanan sehingga perlu adanya kejelasan status pengelolaan dan sosialisasi yang baik di tingkat Provinsi dan Kabupaten.
Berdasarkan pengamatan terhadap karakteristik alam dan habitat di Kabupaten Asmat maka kawasan yang dianggap sesuai sebagai Kawasan Konservasi Perairan (inland fisheries sanctuary) di Kabupaten Asmat terletak pada kawasan Rawa Baki. Kawasan Rawa Baki selain memiliki keanekaragaman dan populasi satwa perairan yang tinggi juga berperan sebagai tempat pemijahan serta daerah asuhan jenis satwa tertentu (satwa air, serangga dan jenis burung). Jenis satwa perairan yang perlu untuk dilestarikan populasinya di kawasan ini adalah Ikan Arwana Irian (Scleropages jardinii), Gurami (Osphronemus gouramy), Kakap Batu, Sepat Rawa, Duri, Gabus, Buaya, Udang Galah, serta Kura-kura Moncong Babi. Dalam penetapan Kawasan Konservasi Perairan Rawa Baki juga memperhatikan persentase luasan zona inti dan zona pemanfaatan sehingga pendapatan masyarakat pemilik hak ulayat tidak terganggu oleh adanya Kawasan Konservasi tersebut.
IV. KESIMPULAN
1. Potensi Ikan Arwana Irian dan kura-kura di Kabupaten Asmat sangat besar sehingga perlu dilaksanakan survey pendugaan stok Ikan Arwana Irian dan Kura-kura oleh LIPI di perairan Kabupaten Asmat.
2. Perlu dilaksanakan penetapan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) di Rawa Baki demi menjaga potensi Ikan Arwana Irian dan Kura-kura
3. Perlu ditetapkan kejelasan status pengelolaan Ikan Arwana Irian, dan berbagai jenis kura-kura sehingga tidak terjadi tumpang tindih kewenangan antara Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan Kementerian Kehutanan
4. Perlu dipromosikan potensi ikan hias selain Arwana Irian sehingga mempunyai nilai jual yang tinggi.
Sumber: Bahan Presentase Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Asmat pada kegiatan Sosialisasi dan Perlindungan Jenis Ikan di Merauke, yang diselenggarakan oleh Loka PSPL Sorong (tahun 2010)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar